Ada sesuatu yang tumbuh dengan cara yang tenang—nggak ribut, nggak meledak-ledak, tapi konsisten. Bukan sensasi sesaat yang viral hari ini lalu dilupakan besok. Dipsy Do buat saya hadir dengan irama seperti itu. Pelan-pelan, nyaris tanpa gembar-gembor, tapi terus bergerak.
Sejak berdiri di 2023, kami memang bukan tipe band yang rajin muncul atau sibuk mengejar algoritma. Tapi para personilnya—yang kebetulan juga kawan-kawan saya sendiri—punya satu kebiasaan yang sama: kalau berkarya, ya dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Nggak buru-buru, nggak sok ingin cepat dewasa. Barangkali memang pengaruh umur; band om-om ini justru makin menua, makin hangat, dan entah kenapa… makin menggemaskan.
Makanya, ketika akhirnya mini album kedua kami, Neon Sins & City Grins, siap rilis pada Desember 2025, rasanya seperti menyaksikan benih kecil yang saya tanam bertahun-tahun lalu akhirnya tumbuh menjadi pohon yang mungkin… ya, sedikit miring ke barat. Tapi tetap pohon. Tetap hidup. Tetap tumbuh.
Dan soal “barat” itu, takdir ternyata punya selera humor. Album ini lahir bersamaan dengan perjalanan kami menuju Jakarta untuk tampil di acara puncak sebuah festival yang sejak remaja saya anggap sebagai altar keramat dunia musik: Soundrenaline.

Soundrenaline dan riwayat personal saya
Sebagai anak milenial yang tumbuh dengan poster-poster festival menempel di dinding kamar, Soundrenaline adalah semacam kompas budaya. Dari sana saya belajar mencatat nama band, gaya panggung, bahkan hal remeh seperti gaya rambut vokalis indie era 2000-an. Ada masa ketika saya rela ke warnet hanya untuk mencari kabar terbaru soal Soundrenaline ketimbang jajan. Dan ya—itu masa ketika mimpi tampil di sana terasa sama jauhnya dengan mimpi pergi ke Mars.
Maka ketika Dipsy Do akhirnya dipastikan tampil di panggung utama mereka pada 20 Desember 2025—jujur saja, ini lebih besar buat saya dibanding tampil di luar negeri sekalipun. Sebab yang saya bawa ke panggung itu bukan sekadar musik, tetapi sejarah kecil dari diri saya, dari remaja yang dulu hanya bisa menonton festival itu lewat layar komputer berdebu di kamar.
Ada banyak acara besar lain, banyak festival yang secara teknis lebih internasional atau lebih mewah. Tapi Soundrenaline adalah satu-satunya yang saya tonton bertahun-tahun, saya ikuti estetika promosinya, bahkan saya hafal cuplikan iklan pendeknya di televisi. Soundrenaline—entah kenapa—selalu menjadi bagian dari imajinasi musikal saya.
Jadi ketika akhirnya kaki saya benar-benar akan menginjak panggung itu bersama Dipsy Do… ya, bagaimana saya tidak merayakannya?
Perayaan yang berlapis-lapis
Tentu ini bukan hanya soal saya. Bukan hanya soal Dipsy Do. Lagu-lagu dalam Neon Sins & City Grins memang lahir dari kepala kami sendiri—dari pengalaman urban yang kami cerna lewat neon-neon kota, perjalanan, kehilangan, cinta, dan kesepian. Tapi keberangkatan kami ke arah barat ini adalah hasil dari sesuatu yang jauh lebih besar: gerakan kolektif di Lombok.
Dalam beberapa bulan terakhir, Lombok seperti sedang berdenyut kencang. Banyak gigs muncul di skala kecil hingga menengah, diskusi musik kembali hidup, dan kolektif-kolektif baru bangkit dari hibernasi panjang. Di tengah semua itu, ada dua nama yang terus bergema: Lock Block dan Konser Lombok.
Lock Block dari Lombok Timur itu ibarat peluru ditembak dari jarak jauh tapi tetap kena sasaran—keras, cepat, dan tepat arah. Saya akrab dengan mereka sejak lama. Mereka konsisten berkarya dan tampil hingga ke luar pulau, tapi tetap membumi dan setia pada rumah. Tidak heran nama mereka ikut masuk radar kurator Soundrenaline.
Sementara Konser Lombok adalah rumah kedua saya. Di sana saya menulis, berdiskusi, dan ikut merumuskan hal-hal kecil yang kemudian tumbuh menjadi sesuatu yang lebih besar. Konser Lombok bukan sekadar media; ia adalah gerakan. Bukti bahwa kalau komunitas di daerah tidak diam, pusat akan menoleh.
Dari gerakan kecil itulah—gigs perumahan, panggung improvisasi, kolaborasi spontan—kurator Soundrenaline mulai memperhatikan. Mungkin bagi mereka ini semacam audisi terselubung: melihat siapa yang benar-benar bekerja, siapa yang konsisten, siapa yang tidak berhenti berkarya. Dari sana nama-nama itu naik ke permukaan: Lock Block, Dipsy Do, Konser Lombok.
Dan itu adalah kemenangan kolektif.
Saya pun tetap bangga dengan band-band Lombok lainnya yang tampil di event besar, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Saya sering menceritakan prestasi mereka ke kawan-kawan di luar pulau, menjelaskan betapa kerennya skena musik Lombok.

Kenapa saya ingin merayakannya
Karena kami tidak besar. Tidak kaya. Tidak punya akses pusat. Kami band dari daerah—lahir dari ruang rekaman kamar, dari pulau yang masih sering dianggap sekadar destinasi liburan. Dari kota kecil yang sering dianggap tidak punya pasar musik.
Tapi justru dari kota kecil itu, lahir album Neon Sins & City Grins. Lahir band-band seperti Lock Block yang unik dan konsisten. Lahir gerakan seperti Konser Lombok yang merawat skena secara sukarela. Lahir gigs-gigs kecil yang kadang dibayar kopi, tapi energi yang terkumpul tidak bisa dibeli dengan uang.
Dan kini perjalanan itu membawa kami ke arah barat—secara literal menuju Jakarta, secara simbolis dari pinggiran menuju pusat, dari ruang kecil menuju panggung yang lebih besar.
Itulah mengapa saya merasa dua hal ini perlu dirayakan:
- Album kedua kami, perjalanan kreatif yang matang.
- Perjalanan ke arah barat, pencapaian kolektif yang mewakili skena musik Lombok.
Ini bukan kemenangan personal. Ini kemenangan lintas-band, lintas-komunitas, lintas-kota. Dan sebagai seseorang yang tumbuh dengan Soundrenaline sebagai kitab musikal masa remaja, saya merasa momen ini terlalu berharga untuk dilewatkan tanpa selebrasi kecil.
Kalau dulu saya menonton Soundrenaline dari jauh, sekarang saya dan kawan-kawan Dipsy Do akan berdiri di panggungnya. Kalau dulu Lombok hanya menjadi nama kecil di peta musik nasional, sekarang kawan-kawan dari Lombok Timur dan Mataram berjalan bersama menuju barat—menuju lampu paling terang yang bisa kami gapai.
Dan itu adalah sesuatu yang sangat layak dibanggakan.