Beatriff Collective Bawa Buku Kedua Tur ke Jakarta, Bogor, dan Tangerang

MATARAM — Media musik kolektif asal Lombok, Beatriff Collective, menggelar “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta–Bogor–Tangerang” pada 29 September hingga 3 Oktober 2026. Tur ini menandai perilisan buku kedua mereka, Memahami Musik, Mencari Kebebasan (2026), dan singgah di sejumlah kantong kesenian di tiga kota tersebut.

Tampilan buku Beatriff vol.2 (dok. Pribadi 2026)

Sebelumnya, Beatriff Collective merilis buku pertama berjudul (Se-)Putar Musik (2025) yang diiringi tur di sekitar Pulau Lombok. Kali ini, kolektif tersebut memperluas jangkauan ke luar daerah.

Direktur sekaligus pendiri Beatriff Collective, Gilang Sakti Ramadhan, mengatakan tur ini bertujuan memperkenalkan Beatriff Collective kepada publik yang lebih luas dengan mendatangi langsung calon pembacanya. Menurutnya, pembaca itu tidak harus berasal dari kalangan musik atau buku.

Poster tur buku Mencari Kebebasan (dok. Pribadi 2026)

“Sedikit-sedikit pun tak apa, asalkan niat memperkenalkan Beatriff Collective dilakukan terlebih dahulu. Dengan semangat bekerja dengan senang, bermain sambil belajar, kami terus bergerak. Tentu dengan pelan-pelan,” kata Gilang.

Mengisi kekosongan bacaan musik di Lombok

Gilang menilai Lombok saat ini minim media musik yang menyediakan bacaan alternatif. Tulisan yang beredar, menurutnya, sebagian besar berkisar pada siaran pers atau tanggapan pelaku musik terhadap rilisan baru. Padahal, percakapan tentang musik sebenarnya banyak, hanya saja jarang ada yang mau menampungnya.

“Karena situasinya demikian, kami dirikan Beatriff Collective. Visinya membuka ruang bagi berbagai kalangan untuk menuliskan cerita, pandangan, dan pendapatnya soal musik,” ujar Gilang.

Tulisan-tulisan itu diterbitkan melalui kolom Verse di Instagram. Bobotnya tidak selalu akademis, meski tulisan akademis tetap diterima. Kontributornya pun beragam. “Ada yang memang bekerja sebagai penulis, ada pula yang tidak. Kami menerima seluruhnya,” terang Gilang.

Dari Instagram ke buku

Buku dipilih sebagai medium untuk mengarsipkan tulisan-tulisan kolom Verse agar tidak tenggelam di tengah distraksi media sosial. Gilang mengibaratkan perbedaan keduanya seperti versi rilisan musik.

“Kalau tulisan-tulisan itu diimajinasikan sebagai album, yang tersiar di Instagram adalah radio version, sementara yang ada di dalam buku adalah album version. Jadi pembaca bisa menemukan perbedaannya,” ujarnya.

Tampilan kisi instagram @beatriffcollective (dok.pribadi 2026)

Tur ini mendapat dukungan dari Medium Book Store–Kelontong Poet-Tea, Kios Ojo Keos, Atelir Ceremai, Cikerti Connections, Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta, Gudskul Ekosistem, Komunitas Akarpohon, Konser Lombok, Explore Lombok, dan NTB Daily. Gilang berharap dukungan tersebut berdampak pada perkembangan kancah musik, khususnya di Lombok dan lebih luas di Indonesia.

Mengutip pengantar editor buku terbarunya, Gilang menyebut tulisan-tulisan dalam buku ini sebagai sesuatu yang dapat dipungut di tengah tsunami informasi dan pergulatan antara AI dan manusia. “Agar hubungan insan dengan musik, industri atau bukan, panjang umur, sehat-sehat, with or without algoritma,” tandasnya.

Tentang Beatriff Collective

Beatriff Collective adalah media musik kolektif berbasis di Lombok, Nusa Tenggara Barat, yang didirikan pada 13 Januari 2024 oleh Gilang Sakti Ramadhan bersama sejumlah kawan. Kolektif ini menjalankan tiga program: Verse, kolom tulisan musik mingguan di Instagram; Coda, diskusi interaktif dengan pelaku musik; dan Refrain, diskusi yang berupaya merumuskan sejarah, arsip, dan perjalanan musik, khususnya di Kota Mataram. (*)


Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top