Nusaria Bertanya “Siapalah Aku” di Tengah Cinta yang Datang Beda Usia

Lombok — Ada perasaan yang datang tanpa terlebih dahulu bertanya apakah waktunya tepat. Dua orang bisa bertemu pada waktu yang sama, saling tertarik, tetapi berada pada usia dan fase kehidupan yang berbeda.

Dari kegamangan semacam itulah Nusaria melahirkan “Siapalah Aku”, single terbaru yang resmi dirilis pada 16 September 2026 di berbagai platform musik digital.

Artwork Siapalah Aku

Lagu ini berbicara tentang seseorang yang jatuh hati kepada sosok dengan jarak usia yang cukup jauh darinya. Ia ingin mendekat, tetapi pada saat yang sama menyadari bahwa perbedaan usia membawa serta pengalaman hidup, cara pandang, dan berbagai pertanyaan yang tidak sederhana.

“Usiaku merambah senja, sedang ia pagi yang baru buka jendela.”

Larik tersebut menjadi salah satu kunci untuk memahami “Siapalah Aku”. Dua manusia bertemu pada waktu yang sama, tetapi datang dari musim kehidupan yang berbeda.

Menariknya, Nusaria tidak menempatkan persoalan ini sebagai pertanyaan tentang benar atau salah. Lagu justru masuk ke ruang yang lebih personal, yaitu kegamangan seseorang ketika perasaan sudah muncul tetapi nalar meminta dirinya berhati-hati.

Ketika hati dan kepala tidak berjalan searah

“Siapalah Aku” mulai lahir sekitar Februari 2026, berdekatan dengan proses penciptaan dua single Nusaria sebelumnya, “Tanpa Nama” dan “Tak Punya Pulang”.

Gagasan awalnya muncul dari pengamatan Yuga Anggana terhadap sejumlah hubungan di sekitarnya yang memiliki perbedaan usia cukup jauh, termasuk hubungan antara generasi milenial dan generasi yang lebih muda.

Fenomena tersebut membuat Yuga penasaran. Baginya, ketertarikan manusia tidak selalu tumbuh karena kesamaan umur. Ada kebutuhan emosional, psikologis, biologis, rasa nyaman, pengalaman, maupun kualitas tertentu dalam diri seseorang yang bisa saling melengkapi.

Namun, ketika perbedaan itu cukup jauh, seseorang mungkin tidak bisa begitu saja mengabaikannya.

“Menurut saya, rasa insecure dalam lagu ini bukan berarti hubungan tersebut salah. Justru karena dia menganggap perasaannya penting, dia menjadi banyak berpikir. Dia sadar ada jarak yang perlu dijembatani. Kalau memang ingin mendekat, jarak itu tidak bisa diselesaikan hanya dengan perasaan, tetapi juga dengan komunikasi yang jujur,” ujar Yuga Anggana.

Dengan begitu, rasa insecure dalam “Siapalah Aku” bukan semata-mata ketakutan terhadap perbedaan usia. Ia menjadi semacam tanda bahwa tokoh dalam lagu menyadari ada sesuatu yang perlu dipahami sebelum melangkah lebih jauh.

Maju takut salah. Mundur masih ingin tinggal.

Di situlah pertanyaan “Siapalah Aku?” menemukan maknanya.

Cinta sebagai ruang yang tidak selalu sederhana

Bagi Yuga, perbedaan usia sendiri bukan satu-satunya ukuran untuk membaca keberhasilan atau kegagalan sebuah hubungan. Yang lebih penting adalah bagaimana dua orang menghadapi perbedaan tersebut.

Komunikasi yang terbuka, kesetaraan emosional, transparansi mengenai motivasi masing-masing, serta kemampuan menghadapi stigma sosial menjadi bagian yang menurutnya perlu diperhatikan ketika dua orang datang dari latar usia yang berbeda.

“Yang menarik bagi saya bukan menentukan hubungan itu benar atau salah. Saya lebih tertarik pada orang yang sedang mengalaminya. Dia ingin mendekat, tetapi sekaligus sadar ada banyak hal yang harus dipikirkan,” katanya.

Karena itu, “Siapalah Aku” tidak datang sebagai jawaban. Ia justru mempertahankan keraguan tersebut sebagai bagian dari cerita.

Nusaria dan sisi lain Yuga

Ada hal lain yang membuat single ini menarik dalam perjalanan Nusaria.

Bagi Yuga, Nusaria pada awalnya hanyalah salah satu ruang ekspresi musikal sekaligus tempat belajar menulis lagu cinta. Namun setelah berjalan beberapa lama dan merilis tiga single, ruang tersebut perlahan menemukan fungsi yang lebih personal.

“Awalnya Nusaria hanya menjadi salah satu bagian ekspresi musikal saya sebagai ruang belajar menulis lagu cinta. Tetapi setelah berjalan beberapa lama dan merilis tiga single, saya merasa ternyata mengekspresikan lagu cinta dengan musik sederhana menjadi bentuk katarsis saya yang lain,” ujar Yuga.

Kesehariannya bersinggungan dengan pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, kesenian, kebudayaan, dan gerakan komunitas. Berbagai aktivitas tersebut, menurutnya, cukup menguras tenaga dan pikiran.

Nusaria kemudian menjadi ruang yang berbeda.

“Saya merasa masih menjadi manusia yang berbicara tentang percintaan, kasih sayang, keluarga. Hal-hal sederhana seperti itu. Nusaria memberi saya ruang untuk membicarakan sesuatu yang mungkin tidak selalu membutuhkan pemikiran yang berat.”

Kesederhanaan tersebut kemudian menjadi bagian dari identitas Nusaria. Setelah “Tanpa Nama” berbicara tentang hubungan yang tidak kunjung memiliki nama dan “Tak Punya Pulang” membawa tema kehilangan serta rumah, “Siapalah Aku” kembali membawa Nusaria pada persoalan manusia yang sangat sehari-hari: jatuh hati, ragu, berharap, kemudian bertanya-tanya.

Sanggaboemi: Ada ruang untuk keraguan

“Siapalah Aku” juga menghadirkan Sanggaboemi sebagai penyanyi.

Bagi Sanggaboemi, kekuatan lagu justru terletak pada rasa ragu yang dibawa tokohnya.

“Menurut saya, yang menarik dari ‘Siapalah Aku’ justru rasa ragunya. Tokohnya tidak sekadar jatuh cinta lalu mengejar. Ada kesadaran bahwa mereka berada di usia dan pengalaman yang berbeda. Jadi ada tarik-menarik antara ingin mendekat dan bertanya apakah sebaiknya mundur,” ujar Sanggaboemi.

Keraguan tersebut membuat “Siapalah Aku” tidak berhenti sebagai lagu tentang perbedaan usia. Ia menjadi lagu tentang situasi ketika seseorang harus berhadapan dengan perasaannya sendiri.

Pop retro dan lagu yang sudah lebih dulu hidup di panggung

Secara musikal, “Siapalah Aku” membawa warna pop retro bernuansa 1970-an dengan tempo yang cenderung lambat. Gitar akustik, gitar elektrik, bass, drum, piano, dan vokal harmoni menjadi fondasi aransemen.

Pendekatan musik yang sederhana memberi ruang lebih besar kepada vokal dan lirik untuk membawa cerita.

Menariknya, sebelum hadir secara resmi di platform digital, lagu ini sudah beberapa kali dibawakan Nusaria dalam pertunjukan langsung sepanjang 2026. Dengan demikian, “Siapalah Aku” sebenarnya sudah lebih dulu bertemu dengan pendengar melalui panggung sebelum akhirnya direkam dan dilepas secara resmi.

Kini, mulai 16 September 2026, lagu tersebut dapat didengarkan di berbagai platform musik digital.

Pada akhirnya, Nusaria tidak sedang mencoba menyelesaikan persoalan tentang cinta dan perbedaan usia. Mereka hanya membawa satu kegamangan ke dalam lagu, lalu membiarkan pendengar menemukan pengalaman masing-masing di dalamnya.

Sebab barangkali, ketika hati ingin mendekat tetapi kepala terus bertanya, yang tersisa memang hanya satu pertanyaan:

Siapalah aku?

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top