MATARAM — Empat bulan setelah merilis “Tak Segampang Itu, Nona”, Ranger Hijaw kembali melanjutkan perjalanan menuju album perdananya melalui single terbaru, “Perempuan Jingga”, yang dirilis pada 3 September 2026 di berbagai platform musik digital.
Jika pada single sebelumnya Ranger Hijaw tampil lebih gembira, centil, dan ringan, kali ini ia masih mempertahankan kegembiraan tersebut, tetapi membawanya ke tempo dan suasana yang lebih slow. “Perempuan Jingga” menjadi kesempatan baru bagi solois asal Lombok ini untuk kembali merentangkan kemungkinan-kemungkinan yang ada di dalam musik rockabilly.
Perubahan paling terasa terdapat pada komposisinya. Porsi vokal utama, jalinan instrumen, dan vokal latar dibuat lebih merata sehingga masing-masing elemen memiliki ruang untuk bernapas. Hasilnya bukan lagi rockabilly yang semata-mata mengandalkan energi dan hentakan, melainkan sebuah bentuk yang lebih tenang dan lapang.
Ranger Hijaw tetap mempertahankan nuansa musik era 1950-an, terutama pengaruh blues ballads, salah satu akar musikal yang ikut membentuk rockabilly. Namun, pada “Perempuan Jingga”, warna tersebut kemudian dipertemukan dengan nuansa tembang kenangan musik Indonesia era 1980-an.
Pertemuan dua dunia itulah yang kemudian melahirkan apa yang disebut Ranger Hijaw sebagai “Rockabilly Ballads”.
Istilah tersebut menjadi menarik karena menunjukkan bagaimana Ranger Hijaw tidak sedang berusaha mengulang rockabilly secara mentah. Ia justru terus merentang dan mengulik genre tersebut, mencari kemungkinan baru tanpa meninggalkan akar musikal yang sedang didalaminya.
Sebelumnya, Ranger Hijaw memang telah memperlihatkan arah eksplorasi tersebut melalui beberapa karya, mulai dari “Tanda Tanya (Unboxing 2020)”, “Nina”, hingga mini album “Bungkus”. Pada Mei 2026, ia merilis “Tak Segampang Itu, Nona” dengan pendekatan yang lebih ringan, akrab, dan “gembira nan centil”. Karya tersebut sekaligus menjadi penanda fase baru dalam perjalanan musikalnya menuju wilayah neo-rockabilly.
“Perempuan Jingga” kini membawa pencarian itu ke sisi yang berbeda.

Memotret Kerja Keras yang Sering Luput
Di luar eksplorasi musikalnya, “Perempuan Jingga” juga berangkat dari pengamatan terhadap sesuatu yang sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: kerja keras orang biasa.
Melalui sosok seorang perempuan pekerja, Ranger Hijaw mencoba menangkap realitas yang kerap lewat begitu saja di hadapan kita. Alih-alih menyajikannya sebagai kisah heroik yang besar, lagu ini justru membangun fantasi dan kekaguman terhadap kerja keras sosok tersebut dengan cara yang personal dan ringan.
Di sini, “Perempuan Jingga” terasa seperti cara Ranger Hijaw untuk berhenti sejenak dari kegaduhan. Melihat seseorang bekerja. Memperhatikan geraknya. Kemudian membayangkan sesuatu yang lebih besar dari keseharian yang tampak sederhana itu.
Barangkali justru karena objeknya sederhana, lagu ini memiliki ruang yang cukup luas untuk ditafsirkan.
Satu Langkah Lagi Menuju Album Perdana
“Perempuan Jingga” juga menjadi bagian dari rentetan single yang perlahan mengantarkan Ranger Hijaw menuju album pertamanya.
Dalam proses pendalaman rockabilly, Ranger Hijaw masih melihat banyak kemungkinan yang belum selesai dijelajahi. Eksplorasinya kemudian mengarah semakin jauh ke wilayah neo-rockabilly, yang diproyeksikan menjadi benang merah album debutnya.
Album tersebut nantinya tidak dimaksudkan sebagai satu warna rockabilly yang seragam. Sebaliknya, Ranger Hijaw membayangkan sebuah album yang memperlihatkan berbagai spektrum rockabilly dengan pendekatan musikal yang berbeda-beda.
Dengan demikian, “Perempuan Jingga” bukan sekadar single baru. Ia merupakan satu potongan kecil dari perjalanan yang lebih panjang: bagaimana seorang musisi dari Lombok terus membongkar, merentang, dan meramu ulang satu genre yang telah menjadi rumah eksplorasinya.
Setelah “Tak Segampang Itu, Nona” mengajak pendengar bergembira dan sedikit centil, kini “Perempuan Jingga” mengajak kita memperlambat langkah.
Lebih slow, tetapi pencariannya justru semakin jauh.
“Perempuan Jingga” kini dapat didengarkan melalui berbagai platform musik digital.