Sanggaita Rilis “Tapaq Tilas”: Lagu Debut yang Mengikat Kenangan dan Identitas Emosional


Mataram, 24 Desember 2025 — Di penghujung tahun ini, Sanggaita, musisi muda asal Lombok, Nusa Tenggara Barat, resmi menghadirkan single perdana berjudul Tapaq Tilas. Lebih dari sekadar debut, lagu ini menjadi medium personal sang artis untuk menelusuri kembali kenangan masa kecil, relasi keluarga, pengalaman cinta, dan luka-luka batin yang belum terselesaikan — sebuah langkah artistik yang matang sekaligus emosional.

karya visual lagu Tapaq Tilas dari Sanggaita (foto: dokumentasi pribadi 2025)

Dalam siaran resminya, Sanggaita menyatakan Tapaq Tilas bukan sekedar karya komersial atau tanda kehadiran di industri musik, melainkan sebuah “pintu kecil” yang membuka ruang-ruang intim kehidupan. Ia menggarisbawahi bahwa lagu ini merupakan titik awal perjalanan berkaryanya — selalu berusaha bertumbuh, bukan hanya secara teknis bermusik, tetapi juga emosional dan eksistensial.

Sebagai mahasiswa Program Studi Seni, Drama, Tari, dan Musik Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) NTB, Sanggaita tidak hanya dikenal sebagai vokalis. Ia adalah aktor panggung, penari, dan vokalis ekspresif yang merangkul suara sebagai instrumen emosional dalam konteks pertunjukan teater kontemporer.

Suara Sebagai Drama: Dari Panggung Teater ke Studio Musik

Keahlian vokal Sanggaita tak sekadar terpampang di ranah musik rekaman. Nama dan suaranya mencuat sejak keterlibatannya sebagai penembang dalam lakon Borka, yang dipentaskan Teater Lho Indonesia pada Festival Teater Indonesia (FTI) 2025 di Taman Budaya Provinsi NTB. Dalam produksi ini, suara Sanggaita dibingkai sebagai elemen dramaturgi: bukan sekadar latar musik, tetapi lapisan emosional yang menghidupkan suasana batin tokoh dan nuansa naratif panggung.

Pementasan Borka sendiri — adaptasi cerpen Belfegor karya Kiki Sulistyo — menampilkan pendekatan eksperimental terhadap musik dan suara. Komposer dan etnomusikolog Gde Agus Mega merancang perkusi ambience sebagai suara bawah sadar para tokoh, dipadu oleh vokal Sanggaita yang berperan sebagai penembang, memperkuat atmosfer batin, ketegangan, dan resonansi emosional cerita. Konteks ini menegaskan peran vokal dalam teater kontemporer sebagai sesuatu lebih dari sekadar musik; ia adalah bahasa batin pertunjukan.

penampilan Sanggaita di atas panggung (foto: dokumentasi pribadi 2025)

Musik yang Menyatukan Lintas Ekspresi

Perjalanan artistik Sanggaita mencerminkan tren lintas disiplin yang semakin kuat: dari performative voice di panggung teater menjadi suara yang diolah dalam medium musik rekaman. Tapaq Tilas hadir sebagai ekspresi lintas ranah — mencerminkan kedalaman naratif pertunjukan teater sekaligus keintiman pengalaman pribadi yang mampu didengar dan dirasakan luas lewat musik.

Hal ini menempatkan Sanggaita sebagai contoh musisi kontemporer generasi baru Indonesia yang tidak terkotak dalam label vokalis pop semata, tetapi juga vokalis yang memahami suara sebagai alat cerita, emosi, dan refleksi budaya.

Dirilis tepat saat momentum peralihan tahun, Tapaq Tilas sekaligus menjadi tanda lahirnya suara baru dalam lanskap musik dan teater Indonesia — suara yang jujur, personal, dan berani merentangkan narasi batin melalui nada.


Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top