Baru Dua Bulan Setelah “Tanpa Nama”, Nusaria Kembali Merilis “Tak Punya Pulang”

MATARAM – Belum genap dua bulan sejak merilis single perdananya “Tanpa Nama” pada April 2026 lalu, duo indie pop retro asal Lombok, Nusaria, kembali menunjukkan produktivitasnya. Pada 5 Juni 2026, Nusaria resmi merilis single kedua berjudul “Tak Punya Pulang” di berbagai platform musik digital.

Konsistensi perilisan ini menjadi sinyal bahwa proyek musik yang digawangi Yuga Anggana dan Sangga Boemi tersebut tidak hadir sebagai proyek sesaat. Nusaria tampaknya tengah membangun katalog lagu secara bertahap, satu per satu, sembari memperkenalkan identitas musikalnya kepada publik.

Jika “Tanpa Nama” berkisah tentang hubungan tanpa status yang berakhir dengan ketidakjelasan, maka “Tak Punya Pulang” membawa pendengarnya memasuki ruang yang lebih sunyi: tentang kehilangan seseorang yang selama ini menjadi tempat pulang.

Artwork Tak Punya Pulang dari Nusaria

Menariknya, lagu ini tidak secara langsung menjelaskan siapa sosok yang dimaksud. Sejak awal hingga mendekati akhir lagu, pendengar bisa saja mengira “Tak Punya Pulang” merupakan lagu tentang pasangan yang pergi meninggalkan seseorang. Namun Nusaria sengaja membiarkan ruang tafsir itu terbuka.

“Kami sengaja tidak menyebut siapa sosok itu. Setiap orang punya rumahnya masing-masing. Bisa pasangan, bisa sahabat, bisa ayah-ibu, bisa saudara, bisa siapa saja yang selama ini menjadi tempat mereka kembali,” ujar Yuga Anggana.

Pilihan tersebut membuat lagu ini terasa personal sekaligus universal. Pendengar diberi kesempatan untuk mengisi sendiri makna “rumah” berdasarkan pengalaman hidup mereka masing-masing.

Secara lirik, “Tak Punya Pulang” dibangun dari metafora yang sederhana namun kuat. Rumah bukan lagi dipahami sebagai bangunan atau alamat tertentu, melainkan seseorang yang menjadi tempat berlabuh ketika dunia terasa berat.

Salah satu bagian paling kuat dalam lagu ini muncul pada lirik:

“Kau adalah rumahku
Tempat hatiku berteduh
Tempat kisahku berlabuh”

Namun justru bagian yang paling mengejutkan tidak berada di sana.

Nusaria menyimpan petunjuk terpenting lagu ini menjelang akhir. Sebuah kalimat singkat yang membuat keseluruhan cerita berubah makna dan mengajak pendengar menafsirkan ulang semua yang telah mereka dengar sebelumnya.

Karena itulah, menurut Yuga, lagu ini tidak semata-mata berbicara tentang kehilangan, tetapi juga tentang bagaimana manusia memaknai kehadiran orang-orang yang dicintainya.

“Rumah kadang bukan tempat. Rumah bisa saja seseorang yang selalu mendengarkan keluh kesah kita, tempat kita kembali ketika lelah, tempat kita merasa aman untuk menjadi diri sendiri,” katanya.

Berbeda dengan kebanyakan lagu kehilangan yang dibangun dengan nuansa musikal menyayat hati, Nusaria justru mengambil pendekatan yang tidak biasa. Lagu ini banyak bergerak di wilayah akor mayor dengan tempo lambat.

Personil Nusaria: Yuga Anggana (kir) dan Sangga Boemi (kanan)

Yuga mengaku sengaja memilih pendekatan tersebut agar kesedihan dalam lagu tidak jatuh menjadi ratapan yang berlebihan.

“Tokoh dalam lagu ini sedih, tetapi seolah berusaha tetap tegar. Ada perasaan kehilangan yang besar, tetapi ada juga usaha untuk menahan diri agar tidak larut sepenuhnya di dalamnya,” ujarnya.

Pilihan musikal itu semakin diperkuat oleh permainan piano dan organ dari Lian Haspalian serta karakter vokal Sangga Boemi yang terdengar intim namun tetap terkendali.

Menariknya lagi, Nusaria juga melakukan perpindahan nada dasar di tengah lagu. Selain membuat komposisi terasa lebih dinamis, perpindahan tersebut menjadi bagian dari alur cerita yang dibangun di dalam lagu.

Sebelum perpindahan nada, tokoh dalam lagu seolah sedang berbicara kepada dirinya sendiri. Setelahnya, ia mulai berbicara kepada sosok yang selama ini dianggap sebagai rumah.

Lagu ini ditulis dan disempurnakan sepanjang awal tahun 2026. Bagi Yuga, proses tersebut sekaligus menjadi cara untuk mengelola berbagai kehilangan yang pernah hadir dalam hidupnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa “Tak Punya Pulang” bukanlah lagu yang ingin membuat pendengar tenggelam dalam kesedihan.

Sebaliknya, lagu ini ingin mengingatkan bahwa sering kali kita baru menyadari arti seseorang setelah kehilangannya.

“Kalau ada pesan yang ingin kami sampaikan melalui lagu ini, mungkin sederhana saja. Sering-seringlah pulang kepada orang-orang yang kita anggap rumah sebelum kita kehilangannya,” tutup Yuga.

Dengan dua single yang dirilis hanya dalam rentang waktu kurang dari dua bulan, Nusaria tampak semakin mantap menapaki jalur yang mereka pilih. Setelah “Tanpa Nama” dan kini “Tak Punya Pulang”, publik tentu mulai penasaran: kisah sederhana apa lagi yang akan mereka bawa pada rilisan berikutnya?

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top