LOMBOK BARAT — Setelah setahun terakhir konsisten merilis karya dan membangun identitas di skena musik independen Lombok, Sound Of Magic Island akhirnya melepas single terbaru bertajuk “Senggigi”. Lagu ini menjadi penanda penting, sekaligus penawar rindu akan kawasan wisata legendaris yang pernah menjadi ikon pariwisata Pulau Lombok.

Awalnya, proyek ini direncanakan sebagai bagian dari mini album akustik. Namun, padatnya jadwal para musisi pendukung membuat proses produksi album harus ditunda. Alih-alih menunggu terlalu lama, Sound Of Magic Island memilih merilis “Senggigi” sebagai single pembuka demi menjaga kontinuitas berkarya.
“Senggigi” bukan sekadar lagu. Ia adalah catatan personal sang penulis, Apip, tentang kunjungan pertamanya ke Lombok pada 2001, saat ia tampil di Marina Café Senggigi. Pada masa itu, Senggigi dikenal sebagai jantung pariwisata Lombok — pantai yang ramai, kafe-kafe hidup, dan lalu-lalang wisatawan dari berbagai penjuru dunia.
Melalui liriknya, Apip merangkum detail keseharian yang membentuk karakter Senggigi: nasi bungkus, ikan bakar, kopi jalanan, tempat nongkrong, ombak untuk berselancar, hingga keramahan masyarakat lokal dan matahari terbenam yang ikonik. Semua unsur itu diramu menjadi lanskap emosional yang membuat Senggigi terasa lebih dari sekadar destinasi, melainkan ruang kenangan.

Proses rekaman dimulai pada 22 Januari 2026 di MGCISLND Records, Sandik, Batulayar, Lombok Barat. Lagu ini digarap dengan pendekatan akustik yang minimalis, dipadukan dengan ritme reggae santai. Panji mengisi gitar akustik, Ebonk pada bass akustik, Antoq pada djembe dan perkusi, sementara Apip sendiri mengisi vokal, backing vocal, pianika, dan perkusi. Seluruh proses rekaman, mixing, dan mastering ditangani oleh Chily, dan rampung dalam waktu tiga minggu.
Pilihan aransemen akustik bukan tanpa alasan. Sound Of Magic Island ingin menghadirkan nuansa yang natural, hangat, dan intim, sehingga pendengar dapat dengan mudah membayangkan suasana Senggigi hanya melalui suara dan lirik.
Menariknya, sebelum dirilis resmi, lagu ini terlebih dahulu diuji kepada 16 orang audiens dari berbagai latar belakang — mulai dari warga Senggigi, pelaku wisata, musisi, hingga wisatawan mancanegara. Reaksi mereka direkam dalam format konten “first reaction”.
Respons yang muncul sebagian besar emosional dan spontan: senyum, anggukan, hingga cerita-cerita lama tentang kejayaan Senggigi. Lagu ini memantik nostalgia tentang masa ketika kawasan tersebut dipenuhi turis, pantai bersih, dan kehidupan sosial yang bergairah.
Fenomena ini menegaskan bahwa “Senggigi” bukan hanya karya musik, tetapi juga medium memori kolektif.
Kini, “Senggigi” telah tersedia di berbagai platform digital, termasuk YouTube melalui kanal Sound Of Magic Island, serta Spotify, Apple Music, Joox, TikTok, dan layanan streaming lainnya.
Melalui single ini, Sound Of Magic Island seakan mengajak pendengar kembali ke sebuah masa — ketika angin pantai berhembus pelan, musik reggae terdengar dari kejauhan, dan Senggigi menjadi tempat pulang bagi banyak kenangan.