“Jakarta-sentris itu pasti!” tegas Timmy, Manajer The Dare, dalam talkshow Home Coming Soundmeton Tour Band pada 30 Agustus 2025 di ACE Coffee Shop, Mataram.
Shinigami, Rosen Muller, Little Mascara, dan The Dare baru saja menuntaskan tur Pulau Jawa beberapa waktu lalu. Dalam talkshow tersebut, Cholenesia dan Baiq Yulia yang bertindak sebagai host memantik kisah menarik masing-masing band selama tur berlangsung.
Talkshow dibuka dengan pertanyaan tentang tujuan dilaksanakannya tur. Satu per satu perwakilan band menjawab bahwa tujuan utama dari tur mereka adalah mempromosikan karya serta menggaet pendengar baru lewat pertemuan dan pementasan langsung bersama audiens di lokasi tur.
“Setelah rilis, kami rasa harus bertemu langsung dengan para pendengar. Selain bersilaturahmi dengan pendengar, juga dengan penyelenggara acara di skena yang sama supaya ada keberlanjutan,” ungkap Kesha, pembetot bass Little Mascara.
“Mencari koneksi baru, teman-teman baru, suasana baru, atau mungkin niche yang baru. Lebih ke liburan, sih,” tambah Tobil sambil tertawa kecil.

The Dare, seperti kakak perempuan yang mengajak adiknya pertama kali tamasya ke kota-kota lain, memiliki tujuan strategis tentang tur ini. “Tujuan kami bikin pasar. Jakarta-sentris itu pasti! Pasarnya ada di Jakarta. Kalau kita memulai dari timur (Lombok) ke barat (Jakarta), dari aspek media sosial, algoritma Instagram misalnya, itu agak susah karena bakal tertelan isu-isu di barat. Sedangkan kalau kita mulai dari barat ke timur, isunya akan turun ke timur,” ungkap Timmy. Dari kondisi itu, ia menyimpulkan bahwa dengan menyentuh skena musik di Jakarta akan mempermudah penyebaran karya ke kawasan lainnya. Menurutnya, indikasinya bisa terlihat dari tren skena musik Jakarta yang perlahan diikuti oleh skena musik Lombok.
Data dari media sosial dan digital streaming platform—terutama Spotify—cukup disoroti dalam perbincangan sore itu. Setiap band menggunakan data yang tersedia sebagai salah satu faktor penentu lokasi tur.
“Ketika masuk ke Spotify, sudah ada data top 5 sampai top 10 kota yang paling banyak mendengarkan lagu kita. Kita tinggal sortir mau yang mana saja. Kebanyakan dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Jogja. Kita lempar public interest dulu ke Instagram, kira-kira kalau kita mau tur ke Jakarta, ada yang mau bikinin kita acara nggak?” ucap Timmy tentang cara menentukan lokasi tur bagi dua band asuhannya, Little Mascara dan The Dare.
Faktor lain yang juga menjadi pertimbangan adalah jejaring personel band dengan kelompok kolektif musik di Pulau Jawa yang bisa diajak bekerja sama.
“Kita sudah sebar duluan Rosen Muller dan Shinigami bakal tur di tanggal sekian dengan titik pertama di Bandung. Kota-kota selanjutnya menyusul. Ada tawaran untuk lanjut ke kota lain dari koneksi teman-teman,” ucap Arik, vokalis Rosen Muller.
Tak hanya menentukan lokasi, setiap band juga harus menata jadwal tampil. Little Mascara dan The Dare yang tur pada Agustus menjadikan jadwal main di Cherrypop Fest, Yogyakarta, sebagai titik utama untuk menyusun rute. Maka tersusunlah Depok, Jakarta, Bandung, Solo, Semarang, dan Yogyakarta untuk Little Mascara. Sedangkan The Dare memilih Depok, Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta.
Shinigami dan Rosen Muller yang lebih dulu tur pada Juli, memadatkan jadwal menjadi enam hari penuh: Bandung, Yogyakarta, Solo, Klaten, Malang, hingga berakhir di Sidoarjo.
Dari seluruh titik tur, Solo menjadi lokasi paling berkesan bagi Shinigami dan Rosen Muller. Arik menjelaskan dengan rona kagum tentang lokasi tampil mereka di basement Institut Seni Indonesia Surakarta, yang menurutnya sangat mengesankan, berpadu dengan atmosfer audiens yang “chaos”, menambah gairah personel untuk memberikan performa terbaik.

Sementara bagi Little Mascara, titik tur paling berkesan adalah Semarang. “Venue-nya di dataran tinggi, semi-outdoor, dan view-nya city light. Saat kita perform, setelah dua lagu dimainkan, hujan turun. Atap hanya menutupi panggung, sehingga penonton masuk ke area panggung. Suasananya jadi seperti intimate concert,” ucap Kesha sambil membayangkan kembali momen itu. Pengalaman berkesan juga mereka rasakan di Cherrypop Fest, panggung festival pertama Little Mascara, sekaligus penutup rangkaian tur mereka.
Begitu pula dengan The Dare yang sepakat bahwa panggung Cherrypop Fest memberi kesan mendalam. Sekitar 1.500 penonton perempuan beramai-ramai naik ke panggung, ikut melantunkan lagu yang dibawakan, merasakan euforia bersama layaknya sebuah selebrasi bagi kaum perempuan. Pembatalan konser The Dare di Yogyakarta sebelumnya justru membangkitkan kerinduan penggemar, menjadikan Cherrypop Fest 2025 sebagai saksi peristiwa sentimental The Dare dengan para penggemarnya.
Ada hal menarik dari tur Little Mascara dan The Dare di titik keempat. Saat itu, kedua band mengalami kendala keuangan lalu mengakalinya dengan gerakan “Ketahanan Punkan” yang disiarkan melalui akun Instagram mereka. Gerakan ini berupa barter bahan pangan dengan merchandise untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari tim. Menurut Timmy, inisiatif itu disambut antusias di media sosial The Dare hingga bahan pangan yang diterima berlebih dan dibagikan kepada orang-orang sekitar yang lebih membutuhkan.
Topik pembahasan kemudian bergeser ke dukungan pemerintah. Tobil dan Arik dengan tegas menyatakan tidak mendapat dukungan pemerintah sama sekali selama tur. Mereka juga tampak tak ingin melibatkan pemerintah dalam urusan ngeband. Pendapat serupa diungkapkan Timmy, yang menyatakan bahwa selama The Dare tampil di banyak tempat, termasuk di luar negeri—seperti Malaysia dan sebentar lagi di Jepang—tidak ada satu pun pihak pemerintah yang memberi atensi. Namun, ia tak mempermasalahkan hal itu karena mereka lebih memilih bergerak independen. Ia juga berpendapat bahwa situasi pemerintah Indonesia yang dikuasai pejabat korup dari hulu ke hilir dapat mencederai pergerakan The Dare bila menerima bantuan dari pejabat.
“Beban ketika ada tawaran yang berhubungan dengan plat merah. Walaupun itu dana pribadi, tetap bagian dari gaji. Jadi bagaimana kita menerimanya. Cukup diberitakan dari mulut ke mulut atau share postingan teman-teman saja sudah cukup,” ujar Timmy tegas.
Di akhir talkshow, tiap perwakilan band membagikan impian tur serta rencana mereka. Shinigami berkeinginan tur di Asia Tenggara. Rosen Muller berharap bisa tur ke Padang, Sumatera Barat, atas permintaan kawan band asal sana, Wafaq, yang ditemui saat tur Juli lalu. Little Mascara akan membereskan EP kedua mereka, kemudian bersiap menyambut tur November di lokasi yang masih dirahasiakan. The Dare berharap dapat menjalankan tur di Sumatera dan Kalimantan karena tertantang dengan lokasi yang jauh dan market yang belum terpetakan. Mereka juga akan melangsungkan tur Japankensi pada November 2025 mendatang.
(PP)