Dari Mataram, Nusaria Buktikan Kerja Kolektif Masih Hidup Lewat “Tanpa Nama”

Mataram, April 2026 — Nusaria resmi merilis video musik Tanpa Nama pada 10 April 2026 melalui kanal YouTube mereka. Lebih dari sekadar peluncuran karya, proyek ini menjadi penanda bahwa praktik kerja kolektif dalam ekosistem kreatif di Mataram masih hidup dan kuat—bukan sekadar saling membantu, tetapi benar-benar saling membangun.

salah satu adegan dalam video musik Tanpa Nama dari Nusaria (dok. pribadi 2026)

Di tengah dinamika dunia kreatif yang terus berkembang, Nusaria memilih menempuh proses yang terbuka dan organik. Video musik Tanpa Nama tidak dibentuk oleh satu arah tunggal, melainkan berkembang dari diskusi, pertukaran gagasan, dan kepercayaan antar individu yang terlibat. Gagasan tidak dimonopoli, proses tidak kaku, dan setiap kontribusi menjadi bagian penting dalam membentuk karya.

Yuga Anggana, yang berperan sebagai inisiator sekaligus produser, mengungkapkan bahwa pada awalnya proyek ini direncanakan sebagai produksi sederhana yang digarap secara mandiri.

“Awalnya saya ingin membuat video musik sendiri dengan pendekatan yang sederhana. Tapi dari diskusi dengan Sangga, ide itu terus berkembang. Kami membuka kemungkinan-kemungkinan baru, sampai akhirnya proyek ini tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang dikerjakan sendiri,” ujar Yuga.

Dalam proses tersebut, Yuga kemudian menghubungi Indra Ganeza untuk meminta arahan visual. Namun setelah mendengar lagu Tanpa Nama, Indra justru menunjukkan ketertarikan untuk terlibat lebih jauh dalam penggarapan video ini, sehingga arah produksi berkembang menjadi kolaborasi yang lebih luas.

Atas saran dan masukan dari kawan-kawan terdekat, Nusaria juga diajak untuk melibatkan Egi Gerhanandi—seorang kreator visual yang dikenal memiliki pendekatan yang selaras dengan nuansa musik indie pop retro seperti yang dihadirkan dalam Tanpa Nama. Keterlibatan Egi bersama ruang kreatif Segara Space kemudian memperkuat identitas visual yang ingin dibangun dalam video ini.

Proses pengambilan gambar oleh Indra Ganeza & Egi Gerhanandi (dok. pribadi, 2026)

Bagi Nusaria, proses ini menjadi ruang pertemuan berbagai perspektif. Setiap peran tidak berhenti pada fungsi teknis, tetapi turut membentuk arah karya: sutradara menafsirkan rasa dalam lagu, aktor membawa emosi ke dalam tubuh visual, dan ruang menghadirkan atmosfer yang memperkuat cerita. Proses ini menuntut kepercayaan, keterbukaan, serta kesediaan untuk saling mendengar—menjadikan Tanpa Nama tumbuh sebagai karya yang benar-benar dibangun bersama.

Sangga Boemi menambahkan bahwa pengalaman ini menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan kreatifnya bersama Nusaria.

“Proses ini terasa sangat jujur karena semua yang terlibat benar-benar hadir dan berkontribusi. Bukan hanya bekerja bersama, tapi juga berpikir bersama. Dari situ kami merasa karya ini punya nyawa yang lebih kuat,” ujarnya.

Kekuatan tersebut juga tampak pada dinamika para pemeran. Kasha Halim dan Amorina Tarizka, yang baru pertama kali bertemu di hari pengambilan gambar, mampu membangun keintiman emosi yang terasa natural dan meyakinkan. Kedekatan yang tercipta secara spontan tersebut berhasil merepresentasikan emosi lagu dengan kuat, lalu ditangkap melalui pendekatan visual yang sensitif dan dirangkai menjadi pengalaman yang utuh.

Selain nama-nama yang tercantum dalam kredit resmi, Yuga Anggana dan Sangga Boemi juga menegaskan bahwa ada banyak pihak lain yang turut memberi warna dalam proses ini dan layak mendapatkan apresiasi tinggi. Nusaria menyampaikan terima kasih kepada Ucan Suzantika yang setia menemani proses pengambilan gambar dengan obrolan-obrolan hangat serta gagasan-gagasan yang mengalir, kepada Chole yang menghubungkan Nusaria dengan Egi Gerhanandi dan Segara Space, serta kepada Desanti Lale dan Pamela Paganini yang turut memberikan dukungan pada aspek wardrobe.

Adu peran Amorina Tarizka & Kasha Halim dalam proses penggarapan video musik Tanpa Nama miliki Nusaria (dok. pribadi, 2026)

Melalui Tanpa Nama, Nusaria tidak hanya menghadirkan sebuah video musik, tetapi juga memperlihatkan bahwa kerja kolektif yang sehat—yang dibangun atas dasar kepercayaan, pertukaran gagasan, dan kesetaraan—masih hidup dan relevan, khususnya di Mataram. Sebuah proses yang tidak berhenti pada hasil akhir, tetapi juga meninggalkan jejak relasi dan pengalaman bersama di dalamnya.

Video musik Tanpa Nama kini telah dapat disaksikan melalui kanal YouTube Nusaria.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top