Mataram, Indonesia — Proyek pop alternatif asal Lombok, Mon Harja, resmi merilis album perdana bertajuk Sunyi, Studi, Safari pada 27 Januari 2026. Album ini menjadi refleksi personal atas fase krisis, kegelisahan, dan proses pendewasaan yang dialami penciptanya, Arya, semasa menjadi mahasiswa rantau di Yogyakarta.
Memuat dua belas lagu, Sunyi, Studi, Safari lahir dari ruang yang sangat intim. Hampir seluruh materi direkam secara mandiri di kamar kos Arya dengan peralatan sederhana, menggunakan laptop yang sama yang ia gunakan untuk menjalani studi. Dalam proyek ini, Arya memegang peran sentral sebagai komposer, penulis lirik, arranger, sekaligus pengisi vokal mayoritas lagu.

“Saya menulis album ini dalam momen krisis, lalu merilisnya ketika situasi sudah lebih baik, sebagai penanda bahwa krisis sudah dilewati,” ujar Arya dalam keterangan resminya. Ia berharap album tersebut dapat menjadi katarsis bagi pendengar, sebagaimana proses penciptaannya pernah menjadi ruang bertahan bagi dirinya sendiri.
Secara tematik, album ini menyoroti fase rentan kehidupan mahasiswa akhir—periode ketika kecemasan tentang masa depan, penyesalan masa lalu, hingga keraguan terhadap diri sendiri bertemu dalam satu waktu. Meski berangkat dari pengalaman personal, fondasi emosionalnya terasa universal dan relevan bagi banyak orang yang tengah menghadapi masa transisi hidup.
Dari sisi musikal, Mon Harja meramu pop alternatif dengan pengaruh kuat musik Inggris era 1990-an, seperti The Cranberries, Blur, dan Radiohead. Sentuhan melodi klasik ala The Beatles serta elemen synthpop 1980-an turut memberi warna pada lanskap soniknya. Seluruh elemen tersebut dibangun melalui eksplorasi bunyi sintetis yang diprogram secara mandiri di digital audio workstation.

Judul Sunyi, Studi, Safari sendiri merepresentasikan tiga lapisan narasi utama album. “Sunyi” menjadi simbol krisis personal, “Studi” merepresentasikan latar kehidupan akademik, sementara “Safari” menggambarkan perjalanan pulang—baik secara fisik maupun emosional—menuju fase kedewasaan.
Sebelum merilis album penuh, Mon Harja terlebih dahulu memperkenalkan tiga single sejak 2023, yakni “Usia 23”, “Semester Semester”, dan “Hampir Malam di Jalan Pulang”. Ketiganya sempat dirilis dengan nama proyek “Getas”, sebelum Arya memutuskan melanjutkan perjalanan kreatifnya dengan identitas Mon Harja.
Meski secara praktis tampil sebagai proyek solo, Mon Harja sejak awal dimaksudkan sebagai proyek penulisan lagu yang terbuka terhadap kolaborasi. Dalam album ini, salah satu lagu bahkan menampilkan vokal tamu anonim yang dikreditkan sebagai “Her Happy Stories”, sosok yang memiliki peran emosional penting dalam proses kelahiran album.
Album ditutup dengan penggalan lirik reflektif yang merangkum keseluruhan narasi:
“Selamat datang di masa dewasa.
Beban jiwa yang tak sesuai harga.
Selamat datang di masa dewasa.
Semoga lekas kita temukan semua jawabnya.”
Melalui Sunyi, Studi, Safari, Mon Harja menawarkan lebih dari sekadar debut musikal. Album ini menjadi dokumen emosional tentang bertahan hidup di tengah ketidakpastian, sekaligus penanda lahirnya suara baru dari skena independen Lombok.
Album Sunyi, Studi, Safari kini telah tersedia di berbagai platform streaming digital.