Seni sebagai Perlawanan: Jejak Sunyi Ary Juliyant

oleh: Agus K. Saputra

Di sebuah sudut perumahan sederhana, di Montong Kedaton, Lombok Barat, berdiri sebuah rumah yang tampak biasa. Namun di balik kesederhanaannya, rumah itu memiliki nama yang unik sekaligus hangat: Rumah Kucing Montong (eRKaeM). Nama itu tidak muncul dari gagasan besar, melainkan dari kegemaran sang pemilik, Ary Juliyant—atau yang lebih akrab dipanggil Ary Darjanto—terhadap kucing. Dari cinta pada makhluk kecil itu, lahirlah sebuah sebutan yang penuh kelakar sekaligus kasih.

Namun perjalanan rumah ini ternyata melampaui asal-usul namanya. Seiring waktu, eRKaeM menjelma menjadi sebuah ruang pergerakan, tempat di mana denyut kesenian dihidupkan kembali. Sejak 14 September 2016, ketika Yuga Anggana dan kawan-kawan menggagas program Ngopi Sore—sebuah forum diskusi dan pentas seni yang rutin hadir setiap Rabu sore—rumah ini resmi diakui sebagai markas kecil para penggerilya kesenian. Bukan gerilya dalam arti senjata, melainkan gerilya batin, gerilya kreativitas, dan gerilya yang menjaga api seni agar tidak padam.

Ary menyebut dirinya gerilyawan kesenian. Istilah itu tidak lahir dari kebanggaan kosong, melainkan dari pengalaman panjang berkesenian dalam keterbatasan. Baginya, menjadi gerilyawan adalah menerima kenyataan bahwa seni sering harus bertahan di pinggiran, berjuang dengan finansial yang serba minim, sarana yang terbatas, dan kebijakan yang tak berpihak. Tetapi justru di situlah makna perjuangan. Seni tidak pernah lahir dari kemewahan semata; ia tumbuh dari kegelisahan, dari kerinduan, dari tekad untuk melawan arus besar yang kerap mereduksi kesenian hanya menjadi komoditas.

Ary menyadari bahwa dunia industri musik ibarat lautan luas yang ganas, penuh gelombang besar. Namun ia tidak ingin tenggelam dalam gelombang itu. Ia memilih jalan yang lebih sunyi: “melawan aroes besar” dengan caranya sendiri—bukan dengan kebencian, melainkan dengan kesetiaan pada seni sebagai jalan hidup.

Pada suatu masa, Ary pernah dinobatkan sebagai Presiden Musik Indie Indonesia. Namun seiring berjalannya waktu, ia merasa gelar itu justru membatasi. Sebab istilah indie, yang semula adalah gerakan penuh keberanian—gerakan para musisi yang ditolak industri lalu mencari jalannya sendiri—kini telah direduksi menjadi sekadar label genre, bahkan komoditas baru industri musik.

“Indie itu gerakan,” tegas Ary. “Bukan sekadar warna musik. Indie lahir dari penolakan, dari keberanian mencari jalan sendiri ketika pintu industri tertutup.”

Di balik pernyataan itu, terdapat sebuah refleksi filosofis. Bagi Ary, kemandirian bukan berarti terisolasi. Independence berarti merdeka. Merdeka dari definisi sempit industri, merdeka dari tekanan pasar, merdeka untuk tetap jujur pada suara batin. Maka, bahkan ketika ia tampil hanya di hadapan satu orang penonton di Belanda, ia tetap menyebutnya konser. Sebab baginya, musik bukan tentang kuantitas penonton, melainkan tentang kualitas keterhubungan.

Satu orang yang mendengarkan dengan hati lebih berharga daripada ribuan orang yang hadir tanpa makna. Di sini, Ary menegaskan bahwa seni sejati adalah ruang perjumpaan batin—bukan arena dagang.

Ary Juliyant (foto: dok. Agus K.Saputra 2025)

Musisi: Profesi atau Jalan Hidup?

Perjalanan Ary sebagai musisi sering kali berhadapan dengan pandangan miring. Pernah, seorang calon pemimpin daerah dengan enteng berkata: “Musisi bukanlah profesi.” Kata-kata itu menusuk. Bagi Ary, ucapan semacam ini bukan saja mengecewakan, tetapi juga menyakitkan. Betapa dangkalnya pemahaman seorang calon pemimpin yang seharusnya mengayomi masyarakatnya.

Padahal musisi adalah profesi yang luhur. Ia bukan sekadar penghibur, melainkan pencipta dan penjaga denyut batin masyarakat. Musisi, seperti penyair yang merawat bahasa atau filsuf yang merawat pikiran, adalah perawat bunyi. Mereka mengubah getaran menjadi makna, suara menjadi pesan, dan bahkan keheningan menjadi ruang kontemplasi.

Di banyak negara lain, profesi musisi dihormati setara dengan profesi lain. Namun di Indonesia, musisi sering dipandang sebelah mata. Ironi ini tidak membuat Ary menyerah. Sebaliknya, ia semakin yakin bahwa menjadi musisi bukan soal pengakuan, melainkan soal panggilan hidup. Profesi ini tidak sekadar “cara mencari nafkah”, tetapi cara menjaga keberlangsungan jiwa manusia.

Salah satu gagasan yang begitu memikat dari Ary adalah tentang soundscape—istilah yang dipopulerkan oleh Murray Schafer. Bagi Ary, soundscape bukan sekadar komposisi musik, melainkan cara pandang terhadap dunia. Ia mengolah bunyi dari kehidupan sehari-hari menjadi komposisi yang memiliki makna.

Ia pernah memberi contoh sederhana. Di ruang pelayanan kantor, ia menangkap bunyi dari aktivitas yang tampak biasa: orang menunggu, berbincang, menghela napas, atau sekadar menggeleng kepala. Semua itu bisa menjadi musik. Dalam perspektif Ary, musik tidak lagi dibatasi oleh instrumen atau panggung. Musik adalah denyut kehidupan itu sendiri.

Yang lebih radikal, Ary percaya bahwa hening pun bisa menjadi musik. Dalam sebuah konser, ia bahkan pernah meminta para penonton untuk berhenti, diam, dan hanya mendengarkan keheningan. Justru di situlah sumber bunyi sejati. Untuk sampai pada pemahaman ini, seseorang memerlukan mata batin, sebuah sensibilitas yang hanya lahir dari kesediaan hadir penuh dalam hidup dan latihan panjang yang terus-menerus.

Apa yang diperjuangkan Ary Juliyant bukanlah heroisme besar yang penuh sorak-sorai. Ia tidak mengaku sebagai pahlawan. Ia hanya memilih istiqomah pada jalan seni, bekerja dengan kolaborasi yang cair, terutama dengan anak-anak muda, sambil mempersiapkan generasi berikutnya.

Ia tahu betul bahwa daerah seperti Lombok masih menghadapi tantangan serius: ketiadaan lembaga akademisi seni yang mumpuni, serta kebijakan pemerintah daerah yang belum berpihak pada kesenian. Namun alih-alih terjebak dalam keluhan, Ary memilih jalan yang lebih sederhana: berbagi kemampuan tanpa embel-embel. Mengalir seperti air, menyerap pada satu-dua orang yang mau mendengar, lalu perlahan menggerakkan alih generasi.

Inilah bentuk perlawanan yang sesungguhnya: perlawanan yang tidak mengandalkan kebencian, tetapi kesetiaan; perlawanan yang tidak memaksakan sorak-sorai, tetapi menjaga nurani; perlawanan yang sunyi, tetapi kuat. Dari eRKaeM, rumah kucing sederhana itu, Ary Juliyant menegaskan bahwa kesenian bukan sekadar hiburan, melainkan jalan hidup yang menjaga martabat manusia agar tetap manusiawi.

#Akuair-Ampenan, 22-09-2025

2 komentar untuk “Seni sebagai Perlawanan: Jejak Sunyi Ary Juliyant”

  1. Terimakasih Kang Agus Saputra. Sebuah ketulusan yang patut di apresiasi tentang kesediaannya berbagi tulisan untuk kita semua. Ulasan yang semakin menarik bahasanya. Terimakasih . Salam hormat.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top